Bismillahirahmanirrahim
Salam dan bahagia..
Pembaca yang berbahagia, bertemu kembali dengan Jurnal Refleksi Dwimingguan Program Guru Penggerak Angkatan 7 saya dan ini merupakan Jurnal Dwiminggua keenam. Sebagaimana sebelumnya, Jurnal Refleksi Dwimingguan adalah salah satu tugas yang harus dibuat oleh calon guru penggerak pada pendidikan guru penggerak yang berisi tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti kegiatan dalam satu modul. Jurnal Refleksi Dwimingguan ini masih akan merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 2.2 dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Findings, Future) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.
Pada jurnal refleksi dwiminggu keenam ini, kami mempelajari modul 2.2, yaitu tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional. Kembali kami disuguhkan pada materi-materi yang luar biasa menggugah dan membuat kami bertanya apakah kami sudah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman kepada murid-murid kami selama pembelajaran berlangsung. Materi ini sangat urgen disampaikan karena mempertimbangkan pentingnya perkembangan murid secara holistik; bukan hanya intelektual, tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Dengan meningkatnya jumlah kasus perundungan, tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pernikahan usia dini dan kehamilan di bawah usia, murid yang memiliki motivasi belajar rendah hingga putus sekolah, murid dengan gangguan emosional seperti stres, kecemasan, depresi, bahkan kasus bunuh diri pada usia remaja, menunjukkan masih lemahnya perkembangan sosial dan emosional para murid kita.
Masih lekat dalam ingatan kita tentang seorang siswa usia 11 tahun atau kelas 4 SD di Banyuwangi bunuh diri Berita tentang siswa bunuh diri. Santer diberitakan bahwa anak tersebut sering dirundung karena tidak punya Bapak. Meskipun Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi membantah penyebab bunuh dirinya anak tersebut karena dirundung teman sekolah Dindik Banyuwangi Membantah dan wali kelas memberikan keterangan tentang kesehariannya di sekolah Keterangan Wali Kelas yang memperlakukan anak tersebut lebih istimewa, namun ini tetap seyogyanya menjadi perhatian kita bersama sebagai pendidik. Apapun alasannya, jangan sampai ada MR MR lainnya melalui peran guru yang sepenuhnya bisa memberikan pembelajaran sosial dan emosi dari murid-muridnya.
Kembali pada modul 2.2 memiliki capaian pembelajaran khusus:
- Menjelaskan pentingnya Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
- Menjelaskan bagaimana penerapan konsep pembelajaran sosial dan emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
- Mempraktikkan konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE).
- Mengimplementasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh (mindfulness) melalui pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) di sekolah.
- Pembelajaran Sosial dan Emosional
- Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE)
- Kesadaran Penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional
- Menciptakan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah
- Penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di Sekolah
Feelings (Perasaan):
Semakin menyelami materi-materi yang disajikan pada modul-modul PGP ini membuat kami semakin bersyukur bahwa ternyata banyak sekali ilmu yang bisa kami peroleh dengan mengikuti program ini. Ilmu-ilmu ini diterapkan di lingkungan sekolah maupun sekitar peserta, yang selanjutnya akan membawa perubahan sebagaimana tujuan pendidikan yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.
Findings (Pembelajaran)
Selama mempelajari modul 2.2 ini membuka wawasan saya tentang Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Dengan materi-materi tersebut, saya sangat berharapdapat menguasai diri dalam hal mengelola emosi dan kehidupan sosial, semakin bisa menempatkan midfullness dan bisa menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah serta memberi penguatan bagi rekan sejawat dalam hal kompetensi sosial dan emosional.
Future (Penerapan):
Setelah mempelajari modul 2.2 tentu saja saya semakin mantap dalam melaksanakan pembelajaran yang menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman kepada murid. Dengan materi ini bisa membantu perkembangan murid secara holistik; bukan hanya intelektual, tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter
Sekian pemaparan saya dalam Jurnal Refleksi Dwimingguan keenam ini pada Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 7.
Salam dan bahagia ^_^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar