Beranda

Sabtu, 17 Desember 2022

Jurnal Refleksi Dwimingguan ~ Keempat

Bismillahirahmanirrahim

Logo_Pendidikan_Guru_Penggerak-Final-removebg-preview.png

Pada hari ini, Sabtu, 17 Desember 2022, Program Guru Penggerak Angkatan 7 sudah berjalan dua bulan. Dengan demikian, sampailah pada tugas Jurnal Dwimingguan yang keempat. Jurnal Refleksi Dwimingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh calon guru penggerak pada pendidikan guru penggerak yang berisi tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti kegiatan dalam satu modul. Sebagai calon guru penggerak, saya akan merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.3. dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Findings, Future) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

 

Pada dwiminggu keempat ini, kami telah mempelajari akhir modul 1.3, yaitu tentang Visi Guru Penggerak dan modul 1.4, tentang Budaya Positif. Materi-materi yang luar biasa menggugah dan mencerahkan bagi kami peserta PGP. Selain seorang calon guru penggerak diharapkan mempunyai visi yang bisa menggetarkan hati siapapun yang membacanya, juga diharapkan bisa menerapkan budaya positif. Secara rinci materi tentang Budaya Positif ini dengan mempelajari Teori Kontrol, Makna Disiplin, Nilai-nilai Kebajikan, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Segitiga Restitusi serta Posisi Lima Kontrol.

 

 

Facts (Peristiwa)

Senin, 5 Desember 2022 

Refleksi Dwimingguan ini dimulai dari hari Senin, 5 Desember 2022 yakni materi Aksi Nyata dari modul 1.3. Aksi Nyata yang saya lakukan, saya tuangkan dalam portofolio saya dalam link berikut: https://s.id/Aksi_Nyata_Modul_1_3.

Pada hari yang sama merupakan batas pengumpulan tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 1.3. Pada Demonstrasi Kontekstual ini diharapkan CGP memperbaiki visi sehingga bisa mewujudkan profil pelajar Pancasila pada murid di dalam kelas serta membuat prakarsa perubahan diri yang kemudian dijabarkan dalam kanvas BAGJA. Berikut hasil Demonstrasi Kontekstual Modul 1.3 yang berisi prakarsa perubahannya, saya sajikan pada https://s.id/Demontrasi_Kontekstual_Modul_1_3.

Selasa, 6 Desember 2022 materi Eksplorasi Konsep Modul 1.4

Pada hari ini, mulailah Eksplorasi Konsep Modul 1.4. Pada Eksplorasi Konsep ini peserta mendapat tugas untuk mempelajari materi secara mandiri, yakni materi tentang Budaya Positif yang memiliki banyak materi, yaitu Teori Kontrol, Makna Disiplin, Nilai-nilai Kebajikan, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Segitiga Restitusi serta Posisi Lima Kontrol. 

Salah satu hasil pengerjaan tugas pada Eksplorasi Konsep.

Tugas membuat keyakinan kelas

 

Rabu, 7 Desember 2022 adalah hari terakhir pengumpulan tugas Koneksi Antar Mater Modul 1.3. 

Tugas Koneksi Antar Materi Modul 1.3 ini diharapkan merefleksikan dan mengaitkan pemahaman antar modul yang telah dipelajari, dengan mengaitkan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah. Selanjutnya, merevisi dan merumuskan dengan penuh keyakinan, visi yang telah dibuat sebelumnya menjadi sebuah visi yang membuat bersemangat dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya. Hasil pengerjaannya saya tuangkan dalam link berikut: https://s.id/Koneksi_Antar_Materi_Modul_1_4.

Sabtu, 10 Desember 2022 

Pada hari ini merupakan jadwal untuk Ruang Kolaborasi pertama. Dengan fasilitator Bapak Jarot Suseno,  kelas kami dibagi menjadi 4 kelompok untuk menganalisis 4 buah kasus yang berkaitan dengan budaya positif yang biasa terjadi dalam keseharian di sekolah, di mana masing-masing kelompok membahas 2 kasus. Hasil analisis tersebut harus dipresentasikan di Ruang Kolaborasi presentasi kelompok.


Ruang Kolaborasi Presentasi Kelompok



 

Rabu, 14 Desember 2022

 

Pada hari ini dilaksanakan Ruang Kolaborasi presentasi kelompok hasil dari analisis kasus. Dalam menganalisis kasus-kasus yang diberikan ini, CGP menerapkan teori Segitiga Restitusi serta Posisi Lima Kontrol. Hasil pengerjaan analisis kelompok kami, saya tautkan dalam https://s.id/Tugas_1_4_a_5_2.

 

 

Jumat, 16 Desember 2022

 

Selanjutnya, Jumat, 16 Desember 2022 terdapat kegiatan Elaborasi Pemahaman dengan instruktur Bapak Christian Puguh Sulistyo. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.00 dengan diskusi terkait pemahaman materi dengan berbagai pertanyaan pemantik. Dengan kegiatan ini, saya merasa semakin tercerahkan terhadap materi dari modul 1.4. 

 

 Feelings (Perasaan):

Materi-materi yang disajikan pada modul 1.4 ini sebenarnya sangat menarik karena mencantumkan berbagai contoh dalam keseharian di sekolah. Dengan mempelajari materi ini saya sangat berharap bisa menerapkan sebagai posisi manajer. Karena saya sangat berharap dalam menangani permasalahan murid, saya bisa berbuat sesuatu bersama murid saya, bisa mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya dan mendukung murid agar menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

 

Findings (Pembelajaran)

Selama mempelajari modul 1.4 ini kembali membuka wawasan saya tentang cara menyelesaikan masalah dengan posisi sebagai manajer dan memahami dasar kebutuhan murid saya yang sedang bermasalah. Saya sangat berharap bisa menerapkannya dalam keseharian.

Future (Penerapan):

Setelah mempelajari modul 1.4 ini saya akan berusaha menerapkan teori Segitiga Restitusi serta Posisi Lima Kontrol dalam tugas Demonstrasi Kontekstual dan Aksi Nyata, serta dalam keseharian.

 

Sekian pemaparan saya dalam Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.4 pada Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 7. Sayangnya berbagai kegiatan tersebut tidak bisa saya sertakan dokumentasinya karena PC saya sedang diperbaiki :_(

Namun demikian, tetaplah Salam dan bahagia ^_^


Selasa, 06 Desember 2022

Tugas 1.3.a.9. Aksi Nyata ~ Modul 1.3

Bismillahirahmanirahim

Hari Sabtu, 3 Desember 2022 sudah direncanakan untuk praktik SBdP KD 4.3 Meragakan Penggunaan Properti Tari Daerah di kelas saya. Murid-murid saya terlihat sangat antusias. Hal ini dikarenakan mereka bisa memilih kelompok tarinya sendiri, yang saya batasi dalam satu kelompok maksimal 4 anak. Pemilihan secara mandiri ini bisa membuat anak lebih leluasa dalam bekerjasama dan membangun kekompakan. Bisa jadi anggota satu kelompoknya dari teman yang rumahnya dekat (sewilayah), ataupun yang se-circle dalam keseharian. Selain itu, saya juga memberi kebebasan dalam memilih tarian daerahnya, sehingga murid bisa dengan mandiri memilih tarian yang dirasa cocok dengan kelompok mereka. Kemudian karena Kompetensi Dasarnya berbunyi tentang memeragakan penggunakan properti tari maka murid saya juga saya wajibkan memakai properti yang harus disesuaikan dengan tari masing-masing kelompok. Hal ini mendorong kemandirian murid-murid saya untuk menyesuaikan kemampuan menari dan properti yang bisa dijangkau oleh kelompok mereka. Dan pada saat memraktikkannya, bermacam-macam properti tari bisa mereka manfaatkan untuk menunjang penampilannya, seperti selendang, topeng, ikat kepala, kacamata hitam, kain yang dipakai dipinggang sampai menutup paha. Berikut berbagai properti yang digunakan oleh murid-murid saya:







Kegiatan tersebut sesuai dengan visi saya di tugas 1.3.a.6. Demonstrasi Kontekstual, yaitu Mewujudkan Murid yang Unggul, Berwawasan Global dan Berkarakter dan prakarsa perubahan: mengembangkan pembelajaran yang meningkatkan kemandirian murid. Dengan pemantik kebebasan yang bertanggung jawab membuat murid-murid saya lebih mandiri daalam berkreasi. Demikian juga ketika ada yang ingin meminta bantuan memasangkan propertinya (ikat kepala dan kain), saya menyarankan untuk bekerjasama dengan teman satu kelompoknya untuk saling bantu. Hal tersebut membuat mereka mandiri secara berkolaborasi.

Semoga ke depannya murid-murid saya bisa semakin mandiri, sehingga prakarsa perubahan yang saya canangkan bisa terwujud, dan salah satu visi saya bisa tercapai. Aamiin.

Sabtu, 03 Desember 2022

Jurnal Refleksi Dwimingguan ~ Ketiga

 Bismillahirahmanirrahim


Jurnal Refleksi Dwimingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh calon guru penggerak pada pendidikan guru penggerak. Jurnal Refleksi Dwimingguan ini berisi tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti kegiatan dalam satu modul. Sebagai calon guru penggerak, saya akan merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.3. dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Findings, Future) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

Program Guru Penggerak yang saya ikut, hari ini, 3 Desember 2022, telah memasuki dwi mingguaun ketiga. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan PGP ini telah berlangsung selama 1,5 bulan. Pada dwiminggu ketiga ini, kami telah mempelajari modul 1.3, yakni tentang Visi Guru Penggerak. Sebuah materi yang luar biasa. Seorang guru penggerak diharapkan mampu membuat sebuah kalimat visi yang bisa menggetarkan hati siapapun yang membacanya. Tidak hanya membuat kaliamt visi, namun juga diharapkan mampu membuat rencana perubahan yang tertata dan terencana melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA. Tentu ini sebuah materi yang luar biasa. Sementara materi yang dipelajari, secara terinci adlaah sebagai berikut:

  1. Inkuiri Apresiatif,
  2. Memimpin Perubahan Positif
  3. Mengelola Perubahan Positif
  4. Tahapan BAGJA
  5. Proses Inkuiri dalam BAGJA
  6. A - T - M

Facts (Peristiwa)

Senin, 21 November 2022 yakni materi Aksi Nyata dari modul 1.2

Refleksi Dwimingguan ini dimulai dari hari Senin, 21 November 2022 yakni materi Aksi Nyata dari modul 1.2. Aksi Nyata yang saya lakukan, saya tuangkan dalam video berikut: https://s.id/Aksi_Nyata_Modul_1_2.

Selasa, 22 November 2022 materi Eksplorasi Konsep Modul 1.3

Pada materi Ekplorasi Konsep Modul 1.3 ini peserta mendapat tugas untuk mempelajari materi secara mandiri, yakni materi tentang Inkuiri Apresiatif. Selanjutnya Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan (BAGJA). Melalui BAGJA calon guru penggerak bisa mengejawantahkan pola pikir yang tepat, visi yang kuat dan spirit yang membara.

Rabu, 23 November 2022 adalah jadwal saya untuk diberikan pendampingan yang pertama oleh Pengajar Praktik, yaitu Ibu Sri Lestariyani. Pendampingan 1 tersebut dimulai dari pukul 09.30 WIB berjalan dengan sangat baik. Dalam kegiatan tersebut bagaikan mendapatkan pencerahan dan jawaban atas segala kekhawatiran serta keresahan saya atas kegiatan selama program guru penggerak ini. 

  
Gambar pendampingan 1

Jumat, 25 November 2022, bertepatan dengan Hari Guru Nasional, merupakan jadwal untuk Ruang Kolaborasi. Pada Ruang Kolaborasi pertama dengan fasilitator Bapak Jarot Suseno ini  kelas kami dibagi menjadi 2 kelompok untuk membuat visi dan prakarsa perubahan melalui BAGJA. Ruang Kolaborasi presentasi kelompok dilanjutkan pada hari Selasa, 29 November 2022.

Dua hari sebelum Ruang Kolaborasi presentasi, yaitu Minggu, 27 November 2022 diselenggarakan Lokakarya I yang diadakan di SDN Margomulyo 1 Ngawi, di Jl. Yos Sudarso. Pada kegiatan ini saya masuk ke kelompok Ngawi 1, di mana tergabung dengan kelas lain dan diharapkan kami bisa berkolaborasi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Dengan para pengajar praktik, yaitu Ibu Sri Lestariyani, Ibu Sumiati, dan Ibu Yayuk kami diberi pencerahan terkait dengan materi modul 1.3.


Foto bersama saat Lokakarya I 

Selanjutnya, Kamis, 1 Desember 2022 terdapat kegiatan Elaborasi Pemahaman dengan instruktur Bapak Yummy Pilipus Markus Pedjaga. Dari kegiatan ini semakin tercerahkanlah pemahaman kami terkait dengan materi dari modul 1.3. 

 Feelings (Perasaan):

Materi-materi yang dipelajari pada modul 1.3 ini berbagai macam perasaan yang saya rasakan, antara bangga namun juga khawatir tidak dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik dan maksimal, bahkan merasa minder karena melihat teman-teman calon guru penggerak lain yang semakin hebat. Semua terasa bercampur aduk dengan keinginan dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini. 

Findings (Pembelajaran)

Selama mempelajari modul 1.3 ini membuka wawasan saya tentang cara membuat visi dan cara pencapaian visi tersebut melalui BAGJA. Meskipun langkah yang kami jalani untuk melaksanakan langkah-langkah yang kami nyatakan dalam prakarsa perubahan BAGJA ini tidaklah mudah namun dari Forum Elaborasi Pemahaman yang disampaikan oleh Bapak Yummy Pilipus Markus Pedjaga, bahwa tantangan jangan dijadikan batu sandungan akan tetapi sebagai batu loncatan. Pernyataan tersebut sebenarnya digunakan untuk pembuatan visi dan pencapaiannya, namun bagi saya bisa saya artikan untuk melangkah menyelesaikan program ini.

Future (Penerapan):

Setelah mempelajari modul 1.3 ini saya akan berusaha menerapkan beberapa hal yang sudah disampaikan didalamnya, yaitu:

1. Membuat komunitas belajar di sekolah

  

2. Membuat visi dan melaksanakan langkah-langkah pencapaiannya sesuai dengan prakarsa perubahan yang dibuat dengan BAGJA.
VISI : MEWUJUDKAN MURID YANG UNGGUL DAN BERKARAKTER
Prakarsa Perubahan : Mengembangkan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemandirian murid

 
Gambar : Pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan kemandirian murid


Sekian pemaparan saya dalam Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.3 Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 7. Salam dan bahagia.

Senin, 07 November 2022

Tugas Modul 1.1.a.8. Koneksi Antarmateri Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Pendidikan

Hampir semua orang mendapatkan pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Secara tidak langsung, anak yang terlahir akan mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Orang tua memberikan pendidikan guna mengajarkan anak-anak mereka tentang ajaran keagamaan, nilai-nilai kebaikan, norma dan etika, budaya yang berlaku untuk bekal dalam kehidupan anaknya di masyakarat saat dewasa kelak. Tanpa harus tahu definisi tentang pendidikan, orang tua merupakan sekolah pertama yang dikenal seorang anak. Sebagaimana zaman purba, kebanyakan manusia memperlakukan anak-anaknya secara insting, yakni suatu sifat pembawaan sejak lahir dan tidak perlu dipelajari terlebih dahulu. Mendidik secara insting bersumber dari pikiran dan pengalaman.

Bila insting dibawa sejak lahir, maka pendidikan dan kebudayaan didapat melalui belajar. Budaya adalah segala hasil pikiran perasaan, kemauan, dan karya secara individual atau kelompok untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia. Budaya bisa berbentuk konkret dan abstrak. Contoh budaya berbentuk konkret adalah bangunan rumah, mobil, teknologi komunikasi, berbagai benda seni, berbagai ilmu tentang etika pergaulan, dan lain-lain. Sedangkan budaya dalam bentuk abstrak antara lain cita-cita, imajinasi, kemauan kuat untuk mencapai sesuatu, dan sebagianya (Pidarta, 2009:3).

Hubungan antara pendidikan dan kebudayaan adalah pendidikan membuat orang menjadi berbudaya. Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin tinggi kebudayaan suatu bangsa bisa dipastikan makin tinggi pula pendidikan atau cara mendidiknya. Kebudayaan inilah yang bisa menjadi acuan tentang peradaban suatu bangsa. Dengan kata lain, tingginya peradaban suatu bangsa sangat terpengaruh oleh kualitas pendidikannya.

Pendidikan memegang peranan penting dalam memajukan suatu bangsa. Sejak zaman perjuangan kemerdekaan, para pejuang serta perintis kemerdekaan telah menyadari bahwa pendidikan merupakan faktor yang sangat vital dalam usaha membebaskannya dari belenggu penjajahan serta untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, para pendiri bangsa ini berpendapat bahwa disamping melalui organisasi diplomasi dan politik, perjuangan ke arah kemerdekaan perlu diteruskan melalui jalur pendidikan. Pendidikan dijadikan media untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Pendidikan Nasional

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Bagi rakyat Indonesia, pendidikan merupakan wadah atau sarana mendapatkan pengetahuan. Hal ini sesuai dengan fungsi pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan, masyarakat, bangsa, dan negara (Pidarta, 2009:11).

Dengan demikian, pendidikan nasional memiliki tujuan yang mulai, yakni membuat pelajar Indonesia menjadi pribadi yang secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya supaya mampu mengendalikan dirinya, memiliki kekuatan spiritual keagamaan, memiliki kepribadian yang sebaik-baiknya, memiliki kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan nasional memiliki tujuan memberikan bekal kepada pelajar Indonesia supaya bisa menjadi menusia yang sebaik-baiknya dan mampu melanjutkan estafet pembangunan sebagai pemimpin bangsa maupun anggota masyarakat.

Pendukung utama bagi tercapainya keberhasilan pendidikan nasional dengan sasaran pembangunan manusia Indonesia adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu dalam penyelenggaraannya tidak cukup hanya dilakukan melalui transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus didukung oleh peningkatan sistem manajemen tenaga pendidikan serta pengembangan kemampuan peserta didik untuk menolong diri sendiri dalam memilih dan mengambil keputusan demi pencapaian cita-citanya. Kemampuan seperti itu tidak hanya menyangkut aspek akademis, tetapi juga menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, serta kematangan intelektual.


Ki Hajar Dewantara

 sumber : www.pinterest.com

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, telah jauh-jauh sebelum Indonesia merdeka sudah memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan. Meskipun sejak 1854, beberapa bupati menginisiasi berdirinya sekolah-sekolah, akan tetapi hanya bertujuan untuk mendidik calon pegawainya. Pun pada tahun tersebut sudah didirikan sekolah Bumiputera, namun hanya 3 kelas. Rakyat saat itu juga diberi pengajaran tetapi hanya diajari membaca, menulis dan menghitung seperlunya. Pembantupun sebenarnya bisa merasakan pendidikan, akan tetapi pendidikan tersebut dimaksudkan untuk mendukung usaha dagang tuannya. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa pendidikan yang bisa dirasakan saat itu untuk keperluan dan keuntungan dari “penguasa”.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan Barat yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda terlalu intelektualistik dan materialistik, sehingga tidak dapat menjawab kebutuhan bangsa. Diberinya kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk memasuki sekolah Bumiputera yang kelak menjadi HIS, juga tidak memberi harapan yang diinginkan. Lulusan HIS dinilai tidak bermutu sebab yang diterapkan adalah sistem Eropa. Hasil pendidikan dengan sistem tersebut melahirkan anak-anak yang bertabiat kasar, kurang memiliki rasa kemanusiaan sehingga tumbuh rasa individualisme

Melihat hasil pendidikan tidak sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia, maka dipikirkan sistem pendidikan nasional yang berdasarkan budaya bangsa Indonesia dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1922 berdirilah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid. Ketika pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa" (http://www.ustjogja.ac.id diakses tanggal 6 November 2022).

 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan seperti menyelami samudera kemuliaan jiwa seorang pendidik. Tujuan pendidikan begitu mulia karena memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Betapa tujuan untuk memulikan manusia. Pekerjaan di sekolah bertujuan untuk menjemput peradaban kebudayaan yang dicita-citakan. Dengan kata lain, pendidikan menjadi landasan pembentukan peradaban bangsa.

Pemikiran filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara ternyata membedakan antara pendidikan dan pengajaran. Menurut Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pengajaran merupakan bagian dari pendidikan. Pengajaran adalah proses pemberian ilmu untuk melengkapi kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sementara pendidikan adalah pemberian tuntunan terhadap kodrat yang dimiliki anak, agar supaya anak tersebut meraih keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, sebagai manusia seutuhnya maupun sebagai anggota bagian dari masyarakat. Dengan demikian, pengajaran dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang bertujuan untuk memerdekakan manusia Indonesia sepenuhnya. Dalam hal ini, merdeka mengandung maksud murid nantinya bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada siapapun dan hanya bersandar pada kemampuan diri sendiri (merdeka lahir). Selain itu, diharapkan murid dapat tumbuh sebagai manusia yang merdeka batin, yakni memperlakukan dirinya dan orang lain dengan sebaik-baiknya.

Relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini adalah sebagai berikut, berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003, pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari pengertian pendidikan nasional sangat relevan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengharapkan murid menjadi manusia yang berilmu, cakap dan mandiri, karena cita-cita pendidikan saat ini menjadikan manusia Indonesia yang berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.

Selain itu, terdapat 3 kerangka perubahan dalam transformasi pendidikan, yakni pertama kodrat keadaan, yang dibagi menjadi 2 hal, kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam menuntut kenyataan bahwa pendidikan harus menyesuaikan tempat berlangsungnya dan kebiasaan-kebiasaan (kebudayaan yang berlaku) di daerah tersebut. Sementara kodrat zaman bermakna bahwa pendidikan memiliki tantangan yang berbeda berdasarkan zaman yang dilaluinya, sehingga sebagai seorang pendidik haruslah terbuka dengan semua perubahan zaman, apalagi saat ini revolusi teknologi sudah sedemikian pesatnya. Kerangka perubahan yang kedua adalah prinsip melakukan perubahan dengan istilah asas trikon, yaitu:

1.  Kontinuitas, yaitu bahwa pendidikan tidak boleh melupakan akar nilai budaya yang hakiki dari masyarakat

2.  Konvergensi, pendidikan harus memanusiakan manusia dan memperkuat nilai kemanusiaan

3.  Konsentris, pendidikan harus menghargai keragaman serta keunikan pemelajar.

Kerangka perubahan yang ketiga bahwa pendidikan itu memerdekakan. Diibaratkan petani, pendidik haruslah menuntun murid sesuai kodratnya.

Dari semua hal tersebut, jika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, sebagai seorang guru (pembelajar) yang perlu dirubah adalah budi pekerti dari murid. Budi adalah cipta (pikiran), rasa (perasaan), dan karsa (kemauan) serta pekrti artinya tenaga. Jadi dengan semboyan ing ngarso sung tuladha, bahwa di depan seorang pendidik memberi contoh, ing madya mangun karsa yang berarti di tengah pendidik memberi semangat, tut wuri handayani, bahwa di belakang pendidik memberi dorongan, semua supaya pendidikan bisa mengolah cipta untuk menguatkan pikiran, mengolah rasa untuk menguatkan perasaan, mengolah karsa untuk menguatkan kemauan, serta mengolah raga untuk menguatkan tenaga dari pemelajar.

 

Perubahan Yang terjadi

Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan telah menjadi bagian yang istimewa bagi sejarah pendidikan di Indonesia. Konsep pendidikannya menampilkan kekhasan kultural Indonesia dan menekankan pentingnya pengolahan potensi-potensi peserta didik secara tulus. Tugas pendidik adalah mengembangkan potensi-potensi peserta didik, menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik dalam suatu dialog, menghamba pada anak. Semuanya itu dimaksudkan untuk memantik dan mengungkapkan gagasan-gagasan peserta didik tentang suatu bahasan tertentu sehingga yang terjadi adalah pengetahuan tidak ditanamkan secara paksa tetapi ditemukan, diolah dan dipilih oleh murid. Dalam perspektif itulah Ki Hajar memaknai pendidikan sebagai aktivitas “menuntun”.

Yang saya yakini selama ini sejak menjadi pendidik, bahwa setiap anak yang lahir di dunia ini adalah seorang individu. Seorang yang akan menjadi “seseorang” saat dewasa kelak. Menjadi seseorang di sini tentu saja melalui proses panjang, dan yang paling berpengaruh adalah melalui pendidikan. Melalui perjalanan panjang di pendidikan, seorang anak ditempa secara positif maupun negatif. Mengapa saya sampaikan seperti itu?

Ditempa hal yang positif apabila yang ditanamkan dalam ingatan anak adalah hal-hal yang positif. Banyak ahli perkembangan anak menyampaikan bahwa satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga, satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga, dan sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga. Saya meyakini benar pendapat ini karena saya merupakan korban bentakan, makian, cubitan bahkan pukulan. Dengan pengalaman buruk tersebut, saya merasa potensi yang ada pada diri saya tidak terasah dengan maksimal. Sehingga saya sangat menjaga supaya saya tidak berlaku seperti itu ketika mendidik.

Pengalaman lain yang berhasil saya himpun dari beberapa orang teman sekolah saya, adalah bahwa ingatan buruk saat bersekolah (dalam hal ini dengan guru) itu akan terus dibawa seumur hidupnya, setidaknya hingga di usia dewasa. Dengan pengakuan tersebut, tentu saya tidak ingin anak yang saya didik memiliki ingatan buruk tentang saya. Karena itu, sebisa mungkin saya menciptakan kenangan yang baik, meski itu tidaklah mudah, karena dalam keseharian ada saja permasalahan di dalam kelas.

Selain berkenaan dengan kenangan dan ingatan terhadap sosok guru, yang saya yakini selama ini adalah bahwa masing-masing anak memiliki masa depannya masing-masing. Sebagai seorang pendidik hendaklah tidak memiliki pandangan yang meremehkan, bagaimanapun kemampuan anak tersebut, terutama dalam bidang akademik. Sebagai contoh pernah saya memiliki siswa yang sampai kelas 4 sangat tertinggal dalam kemampuan akademiknya. Namun, saya terus membesarkan hatinya dengan menyampaikan di depan kelas, “Mungkin saat ini si A belum bisa mengikuti pembelajaran, namun kita tidak pernah tahu jika saat dewasa kelas A bisa menjadi juragan mie ayam karena si A pandai memasak seperti orang tuanya yang pedagang mie ayam. Atau karena si A ini pandai momong adiknya, maka siapa tahu nanti si A jadi istri idaman karena memiliki rasa kasih sayang yang besar seperti yang dilakukannya saat ini terhadap adik dan keluarganya, sama Allah dikirimkan suami yang baik, kaya raya yang juga menyayanginya, dan akan menjadi nyonya besar. Oleh karena itu, kita semua tidak boleh meremehkan siapapun, apapun kondisi dan kemampuannya saat ini. Kita tidak pernah tahu akan terjadi apa di hari esok terhadap nasib seseorang. Siapa tahu yang saat ini pandai matematika nanti menjadi anak buah yang kurang pandai. Wallahi, kita tidak pernah tahu 1 menit ke depan akan terjadi apa pada kita.” Dengan demikian, si A tidak pernah dirundung teman-temannya, dan bisa berbaur dalam pergaulan dan perkembangan yang normal dengan anak seusianya.

Beberapa contoh ucapan terima kasih dari anak didik saya, yang terasa tulus mencurahkan perasaannya kepada saya.

https://www.instagram.com/p/B5R8N7OFgHaK9Ed7QhbLSQCEowe1Cihof3PKLU0/?igshid=YmMyMTA2M2Y=
https://www.instagram.com/p/CBDLMoYlBx9AXj5Ait_sgs2LZlk-bdPr0wR0fE0/?igshid=YmMyMTA2M2Y=

Peserta didik yang memiliki permasalahan seperti yang saya sampaikan di atas tidak hanya satu dua dalam perjalanan saya mendidik anak (murid). Tugas saya hanya mengukir salah satu bagian sejarah hidupnya di dalam perjalanan pendidikannya. Saya sangat berharap, menjadi apapun anak didik saya kelak, akan menjadi orang yang bahagia, sesuai dengan ukurannya, karena memang ukuran bahagia masing-amsing orang berbeda.

Setelah mempelajari modul yang berisi pemikiran Ki hajar Dewantara tentang pendidikan, maka saya merasa yang sudah saya lakukan adalah istilah menuntun, menghamba pada anak, meski belum pada tahap ideal menurut Ki Hajar Dewantara. Saya sangat terinspirasi sekali dengan kata-kata tersebut. Begitu istimewanya sehingga benar-benar mengena dalam benak saya. Saya juga menyadari bahwa anak memiliki keunikan dan bergerak dengan kecepatannya sendiri-sendiri, sebagaimana yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa anak bergerak sesuai dengan orbitnya masing-masing.

Dengan mempelajari modul ini saya semakin meyakini yang sudah saya lakukan harus saya teruskan, dengan lebih banyak memahami, menuntun, menghamba pada anak didik saya. Saya akan lebih keras mencoba menyelenggarakan pembelajaran yang aktif (berpusat pada anak, berpihak pada anak), kreatif, efektif, menyenangkan sehingga akan sejalan pemikiran Ki Hajar Dewantara serta seiring dengan tujuan pendidikan nasional. Dan pendidikan yang tidak melupakan budaya serta kearifan lokal berdasarkan kodrat alamnya.

Pembelajaran dengan mempertimbangkan kodrat zaman

Pembelajaran dengan mempertimbangkan keunikan dan kecepatan anak

Selain itu terdapat convergentie-theorie, di mana teori ini mengajarkan, bahwa anak yang dilahirkan itu diumpamakan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh, tetapi semua tulisan-tulisan itu suram. Lebih lanjut menurut aliran ini, pendidikan itu berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi baik, agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan, agar jangan sampai menjadi tebal, bahkan makin suram.

Dengan teori tersebut maka saya sebagai pendidik berkewajiban menebalkan "tulisan buram" anak yang berupa karakter-karakter baik melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik, seperti sikap cinta tanah air dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan salah satu lagu wajib nasional setiap pagi, dilanjutkan dengan pengembangan sikap religius dengan berdoa dan pembiasaan Asma'ul Husna dan berdoa sebelum pemeblajaran. Selanjutnya dengan pendidikan berpusat pada anak, maka pembelajaran diselenggarakan secara menyenangkan. Sebagai contoh dengan permainan Ranking 1 untuk memacu semangat anak dalam mempelajari suatu materi.

Permainan Ranking 1

Harapan yang sangat besar selalu tersemat dalam dada saya, bahwa suatu saat generasi yang saat ini ada di bangku sekolah, bisa menjadi pemimpin bangsa yang terbaik, yang membawa Indonesia pada puncak kejayaan dan peradaban sebagai bangsa, dengan tidak melupakan kearifan lokal, tetap membumi meski sudah pada puncak keberhasilannya. Tidak melupakan akar sejarah maupun budayanya, dan dari mana dia berasal.


Referensi

Pidarta, Made. 2009. Landasan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

www.pinterest.com diakses tanggal 4 November 2022.

http://www.ustjogja.ac.id diakses tanggal 6 November 2022.

New Journey... CGP

Bismillahirrahmanirrahim..

Lama tidak membuka blog ini, sejak berbagai kesibukan yang tiada akhir..cie 😁 akhirnya saya kembali di laman ini karena suatu program, yaitu Program Calon Guru Penggerak. Ya, satu program lagi saya ikuti. Belajar lagi. Dan semua sudah dipastikan sesuai dengan waktunya.

Dengan berbagai rintangan yang ada, saya sangat berharap bisa mengikuti program ini dengan sebaik-baiknya, dilancarkan, dan lulus pastinya. Aamiin Ya Rabbal'alamiin 👏

Berikut pengumuman lulusnya 😍

Alhamdulillah