Salam dan bahagia..
Pembaca yang terhormat, bertemu lagi dengan saya dalam pengerjaan tugas 3.1.a.8 Koneksi Antarmateri - Modul 3.1. Modul 3.1 ini membahsa tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. sedangkan Koneksi Antarmateri ini memiliki tujuan pembelajaran khusus, yaitu:
- CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
- CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.
Sedangkan tugas yang diberikan adalah sebagai berikut:
Untuk menunjukkan pemahaman Anda akan kaitan antarmateri ini Anda akan membuat tulisan yang menunjukkan koneksi antarmateri.
- Buatlah sebuah rangkuman dari proses perjalanan
pembelajaran Anda sampai saat ini pada program guru penggerak ini.
- Anda dapat memilih bentuk rangkuman kesimpulan
Anda dengan cara:
- menulis sebuah blog atau membuat tulisan di Google
Site, dan mengundang rekan-rekan seprofesi Anda untuk memberikan
tanggapan atas tulisan Anda.
- bentuk sebuah presentasi video yang dimuat di media
sosial, menggunakan media animasi sederhana, misalnya powtoon atau screencast atau
media sosial lainnya.
- Bila
Anda tidak ingin menggunakan media sosial, Anda dapat membuat sebuah
jurnal akan perjalanan pembelajaran Anda. Akan lebih baik, bila bentuk
rangkuman kesimpulan Anda dapat mengundang pihak luar untuk menanggapi
tulisan Anda, sehingga ini bisa menjadi umpan balik yang positif akan
proses berpikir Anda.
- Jangan lupa akan tenggat waktu (Hari/Tanggal/Waktu)
yang tercantum di LMS.
- Di bawah ini ada berbagai pertanyaan panduan yang
bisa membantu Anda merangkum pemahaman Anda:
Panduan
Pertanyaan untuk membuat Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi
Antarmateri):
- Bagaimana filosofi Ki
Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Dalam menjalankan perannya, seorang pemimpin di sekolah tentu akan
menghadapi berbagai situasi yang mengharuskan mengambil suatu keputusan atas
suatu permasalahan. Sebagaimana dengan filosofi Ki hajar Dewantara dengan Pratap
Triloka, yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri
Handayani. Semboyan tersebut secara berurutan memiliki arti di depan memberi
teladan, di tengah memberi motivasi dan di belakang memberikan dukungan. Dalam
semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha mengandung makna bahwa keputusan yang diambil
seorang pemimpin tidaklah mudah karena setiap keputusan yang diambil
merefleksikan integritas sekolah, nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi oleh
sekolah tersebut, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi
rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya.
Semboyan ing madya mangun karsa digunakan guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam setiap pengambilan keputusannya bisa mengarahkan dan memberi tuntunan supaya murid dapat berproses dan berkembang. Murid juga dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar sehingga akan berdampak pada keterampilan pengambilan keputusan yang efektif dan bertanggung jawab.
Hubungan Pratap Triloka ketiga, Tut Wuri Handayani dengan peran guru
sebagai pemimpin pembelajaran adalah seorang guru mendukung dalam pengembangan
potensi murid. Dalam hal ini untuk mendukung kreatifitas murid serta menggali
potensinya guru seyogyanya mengambil keputusan yang berpihak pada murid,
berpijak pada nilai-nilai kebajikan dan bertanggung jawab.
Ketiga Pratap Triloka dan kaitannya dengan penerapan pengambilan keputusan
sebagai seorang pemimpin haruslah dengan
berlandaskan kepada 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 tahap
pengambilan dan pengujian keputusan agar murid meraih merdeka belajar untuk
mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan nantinya menjadi manusia yang bahagia
setinggi-tingginya baik sebagai diri pribadi maupun anggota masyarakat.
- Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada
prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Pengambilan keputusan adalah sebuah proses menentukan sebuah pilihan dari berbagai alternatif pilihan yang tersedia, seorang guru terkadang dihadapkan pada suatu keadaan di mana ia harus menentukan pilihan keputusan dari berbagai alternatif yang ada. Proses yang rumit ini berdampak pada dirinya dan lingkungan sekolah. Dampak tersebut akan memunculkan pertentangan nilai yang tertanam dan diyakininya. Pertentangan nilai-nilai itu bisa dipastikan akan berpengaruh pada prinsip-prinsip dalam mengambil suatu keputusan. Karena itu, agar keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat, maka harus berpegang pada nilai-nilai kebajikan yang tertanam pada diri kita, seperti nilai kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang paling kita hargai dalam kehidupan dan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter maupun perilaku yang akan membimbing kita dalam mengambil sebuah keputusan.
- Bagaimana
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’
(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan
proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan
yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah
efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan
keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’
yang telah dibahas pada sebelumnya.
Pengambilan keputusan yang baik salah satunya
dapat dicapai melalui proses coaching. Kegiatan coaching yang kita lakukan pada
materi pengambilan keputusan memiliki peran yang sangat besar dalam pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Coaching dapat membantu dalam
pengambilan keputusan yang tepat yang akan berpengaruh pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Lingkungan positif tersebut
akan berpengaruh positif juga bagi murid dalam proses pembelajaran. Dengan
demikian, proses coaching memberikan manfaat dalam mengembangkan potensi diri murid
dengan memberi pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang
terpendam dalam dirinya, termasuk dalam mengambil keputusan untuk menemukan
solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Kesemua keterampilan coaching maupun
pengambilan keputusan serta pengujiannya telah dipaparkan pada modul 2.3 dan
modul 3.1 dalam program guru penggerak ini dengan pendampingan oleh fasilitator
selama proses pembelajarannya. Pada akhirnya, semua pembelajaran ini adalah
untuk murid serta untuk memperkaya wawasan dan penguatan diri guru agar murid
bisa mendapatkan guruan yang berkualitas dari para guru yang berkualitas. Apakah
keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, apakah sudah sejalan dengan
nilai-nilai kebajikan universal, apakah keputusan yang diambil bermanfaat untuk
banyak orang dan apakah keputusan yang diambil tersebut dapat
dipertanggungjawabkan.
- Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya
akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah
dilema etika?
Kemampuan seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran yang mengedepankan keberpihakan pada murid dalam mengelola kompetensi sosial dan emosionalnya akan sangat berpengaruh pada setiap keputusan yang diambilnya. Terlebih pada kasus dilema etika, dimana suatu keputusan harus diambil dari situasi yang sama-sama bernilai benar namun saling bertentangan.
Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan sangatlah memerlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills). Dengan demikian diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfullness), terutama sadar dengan berbagai pilihan, konsekuensi yang akan terjadi, dan meminilisir bias dalam pengambilan keputusan yang dilakukan.
- Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali
kepada nilai-nilai yang dianut seorang guru?
Sebagai seorang pendidik tentu akan menghadapi situasi dilema etika atau bujukan moral di lingkungan sekolah. Pembahasan studi kasus pada modul ini memberikan contoh-contoh yang biasa terjadi dan mungkin saja pernah dialami oleh sebagian guru. Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk memegang teguh nilai-nilai kebajikan, dalam setiap perilaku senantiasa menjunjung tinggi norma agama, norma kesusilaan, dan berbagai norma yang berlaku di masyarakat, serta mempunyai ketulusan dalam membimbing muirdnya demi mewujudkan cita-cita mulia dari pendidikan. Terkait dengan pengambilan keputusan, sebagai pemimpin pembelajaran, nilai-nilai yang dianut seorang guru akan mendorongnya untuk menentukan pengambilan keputusan berbagai permasalahan moral atau etika yang tepat, sesuai dengan nilai-nilai kebajikan, dapat dipertanggungjawabkan dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
- Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Sebuah pengambilan keputusan yang baik dan tepat tentunya harus dilakukan secara cermat dan terlebih dahulu menganalisis berbagai aspek dan sudut pandang. Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin, maka dalam mengambil sebuah keputusan akan mempertimbangkan 4 Paradigma Dilema Etika, 3 Prinsip Pengambilan Keputusan serta 9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan, apabila masalah tersebut berkaitan dengan dilema etika. Demikian juga apabila masalah yang ada berkaitan dengan bujukan moral maka pengambilan keputusan seyogyanya berpedoman pada nilai benar atau salah. Dengan berpedoman pada hal-hal di atas diharapkan mendapatkan keputusan yang berpihak pada murid, berpijak pada nilai-nilai kebajikan serta dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, keputusan yang tepat pasti dapat mengakomodir kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, memberikan rasa keadilan maupun rasa aman dan nyaman bagi lingkungan di sekitar, sehingga dapat dipastikan dapat berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif dan kondusif.
- Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan
paradigma di lingkungan Anda?
Sebagai seorang guru tentunya mengalami dan diperhadapkan
dengan berbagai permasalahan dari waktu ke waktu yang menuntut dilakukannya
pengambilan keputusan yang tepat. Ketika dihadapkan dengan situasi dilema etika
adakalanya kita mengalami kesulitan-kesulitan dalam menjalankan pengambilan
keputusan tersebut. Kesulitan muncul bisa disebabkan karena berbagai faktor antara
lain karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun, masih
minimnya pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki dalam menyelesaikan
situasi permasalahan terutama kasus dilem etika, selain itu juga adanya kekhawatiran
apakah keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat
mengakomodir kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, dan
adanya perbedaan cara berpikir, persepsi ataupun sudut pandang yang menyebabkan
sulitnya menemukan solusi atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap
pihak yang terlibat.
- Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat
untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengambilan keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran tentu akan mempengaruhi proses pembelajaran yang dilakukan terhadap muridnya. Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu keputusan yang diambil sebagai bentuk proses dalam menuntun murid untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam, zaman dan potensi yang dimilikinya. Karena dengan keputusan yang kita ambil itulah murid dapat menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, mempertajam minat dan bakatnya, menuntunnya sesuai dengan kebutuhannya sehingga dia akan tumbuh dan berkembang secara maksimal.
Dalam memberikan pembelajaran, tentunya sebagai pemimpin pembelajaran dapat melihat dan mempertimbangkan potensi yang berbeda-beda pada masing-masing muridnya. Hal inilah yang disebut sebagai pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan muridnya, baik berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajarnya. Selain itu, hendaknya guru memberikan ruang bagi murid dalam proses pembelajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya pada murid.
- Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran, kita harus berpihak pada murid. Karena dengan keputusan yang kita
ambil itulah murid dapat menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam
dirinya, mempertajam minat dan bakatnya, menuntunnya sesuai dengan kebutuhannya
sehingga dia akan tumbuh dan berkembang secara maksimal selama masa pendidikannya.
Dengan pertumbuhan yang maksimal inilah, maka bisa dianbil kesimpulan bahwa pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh seorang pemimpin pembelajaran maka dapat mempengaruhi kehidupan
atau masa depan murid-muridnya.
- Apakah
kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul
materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan
Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Sebagai seorang pemimpin
pembelajaran tentu sering dihadapkan pada permasalahan yang membutuhkan
penyelesaian yang tepat. Ketepatan penyelesaian permasalahan tidak bisa
dipungkiri berasal dari pengambilan keputusan yang sesuai dengan situasi dan
kondisi permasalahan. Dengan kesesuaian pengambilan keputusan hingga
menghasilkan solusi yang tepat terhadap suatu permasalahan, menjadikan kita
sebagai pemimpin pembelajaran yang tangguh dan selalu menjaga suasana di
sekitar kita menjadi aman, nyaman, positif dan kondusif.
Dengan mempelajari modul 3.1, dalam menghadapi
permasalahan, sebagai pemimpin pembelajaran dapat mengambil keputusan dengan
menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan. Hal ini disebabkan karena keputusan-keputusan yang secara langsung
atau tidak tersebut menentukan arah dan tujuan suatu institusi atau lembaga
serta menunjukkan nilai-nilai atau integritas dari institusinya, yang pada
akhirnya berpengaruh kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid-muridnya.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru dalam
menyelenggarakan pembelajaran seyogyanya bersikap mandiri, selalu berkolaborasi
dengan semua pihak, dan selalu inovatif serta reflektif sehingga mampu menuntun
murid dan berpihak pada murid dengan mengedepankan penyesuaian kebutuhan
belajar muridnya, serta memiliki visi mewujudkan perubahan menuju profil pelajar
Pancasila dengan senantiasa mengembangkan budaya positif dan ketika menghadapi
permasalahan mampu menerapkan Kompetensi Sosial Emosionalnya (mindfulness)
serta melakukan kegiatan coaching untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki, untuk
kemudian melaksanakan pengambilan keputusan dengan menerapkan 4 paradigma, 3
prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Keterkaitan materi
tersebut adalah keberpihakan guru sebagai pemimpin pembelajaran kepada murid dengan
tujuan menuntun segala proses dan potensi murid berdasarkan kodrat (kodrat alam
dan kodrat zaman) murid untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tinginya, baik untuk diri pribadi maupun anggota masyarakat sebagaimana
filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantoro.
- Sejauh
mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di
modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan
keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Pada pembahasan modul 3.1 saya mempelajari bagaimana cara membuat keputusan bagi seorang pemimpin. Sementara itu dalam modul ini membahas materi sebagai berikut:
- Sekolah sebagai Institusi Moral
- Bujukan Moral dan Dilema Etika
- Prinsip Pengambilan Keputusan
- Pengambilan dan Pengujian Keputusan
Hal yang di luar dugaan bagi saya adalah semua materi yang ada dan baru bagi saya, yaitu:
· adanya permasalahan yang terbagi menjadi dua, yaitu Dilema Etika dan
Bujukan Moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang
harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar
tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi
ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.
· Adanya 4 Paradigma Pengambilan Keputusan:
- Individu lawan masyarakat (individual vs community)
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
- Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
· Adanya 3 Prinsip dalam Pengambilan Keputusan.
- Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
· Adanya 9 langkah pengambilan keputusan
- Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
- Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
- Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
- Pengujian benar atau salah
- Pengujian Paradigma Benar lawan Benar
- Melakukan Prinsip Resolusi
- Investigasi Opsi Trilema
- Buat Keputusan
- Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebelum mempelajari modul ini, tentu saya pernah mengalami masalah yang berhubungan dengan dilema etika. Keputusan yang saya ambil pada saat itu sering berdasarkan intuisi saya, selain itu juga berdasarkan nilai-nilai yang saya pegang serta juga berdasarkan rasa peduli kepada orang lain. Kemudian ketika saya mempelajari modul 3.1 ini, saya merasa Care-Based Thinking adalah sebagai sebuah prinsip yang dipakai secara umum dalam mengambil keputusan. Dengan demikian terdapat perbedaan yang mencolok, yakni saya belum mengenal 4 Paradigma, 3 Prinsip dan 9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan.
Sedangkan untuk kasus bujukan moral atau moral dilema, saya pernah berada dalam situasi tersebut, dan saat itu saya berusaha mengambil keputusan dengan menganalisis situasi benar dan salah, serta tidak lupa dengan meminta second opinion dari teman sejawat dan jika buntu maka saya akan meminta pertimbangan dari pimpinan. Dari sini terdapat sedikit persamaa dari konsep pengambilan keputusan dari modul 3.1, yaitu menganalisis unsur kebenaran lawan kesalahan dan juga uji panutan atau idola.
13.Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dengan mempelajari modul ini saya dapat :
- Mengidentifikasi sebuah permasalahan kriteria dilema etika atau bujukan moral serta langkah menyelesaikannya
- Mengidentifikasi jenis dilema berdasarkan 4 paradigma pengambilan keputusan
- Memahami dan memilih 1 dari 3 prinsip dalam pengambilan keputusan yang memuat unsur dilema etika.
- Mencoba menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam permasalahan yang saya hadapi dan bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.
Dengan mempelajari modul ini, perubahan yang ada dan mejadi keyakinan saya adalah yakni bagaimanapun keputusan yang harus diambil, haruslah keputusan yang berpihak pada murid, berpijak pada nilai-nilai kebajikan serta dapat dipertanggungjawabkan.
14.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi
Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Dengan mempelajari modul ini, penting bagi saya sebagai seorang individu untuk melatih kematangan dalam praktik pengambilan keputusan yang mengandung bujukan moral dan dilema etika, dengan berpegangan pada keyakinan bahwa apapun permasalahannya, keputusan yang diambil haruslah keputusan yang berpihak pada murid, berpijak pada nilai-nilai kebajikan serta dapat dipertanggungjawabkan.
Sekolah adalah 'institusi moral' yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin pembelajaran akan menghadapi situasi permasalahan yang mengandung konflik dilema secara etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, ataupun berkaitan dengan moral yang mengandung nilai benar atau salah. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, keputusan-keputusan yang diambil akan merefleksikan nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah.





.jpeg)





