Beranda
Sabtu, 19 November 2022
Senin, 07 November 2022
Tugas Modul 1.1.a.8. Koneksi Antarmateri Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1
Pendidikan
Hampir
semua orang mendapatkan pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Secara tidak langsung, anak yang terlahir
akan mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Orang tua memberikan pendidikan guna
mengajarkan anak-anak mereka tentang ajaran keagamaan, nilai-nilai kebaikan,
norma dan etika, budaya yang berlaku untuk bekal dalam kehidupan anaknya di masyakarat
saat dewasa kelak. Tanpa harus tahu definisi tentang pendidikan, orang tua
merupakan sekolah pertama yang dikenal seorang anak. Sebagaimana zaman purba,
kebanyakan manusia memperlakukan anak-anaknya secara insting, yakni suatu sifat
pembawaan sejak lahir dan tidak perlu dipelajari terlebih dahulu. Mendidik secara
insting bersumber dari pikiran dan pengalaman.
Bila
insting dibawa sejak lahir, maka pendidikan dan kebudayaan didapat melalui
belajar. Budaya adalah segala hasil pikiran perasaan, kemauan, dan karya secara
individual atau kelompok untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia. Budaya
bisa berbentuk konkret dan abstrak. Contoh budaya berbentuk konkret adalah
bangunan rumah, mobil, teknologi komunikasi, berbagai benda seni, berbagai ilmu
tentang etika pergaulan, dan lain-lain. Sedangkan budaya dalam bentuk abstrak
antara lain cita-cita, imajinasi, kemauan kuat untuk mencapai sesuatu, dan
sebagianya (Pidarta, 2009:3).
Hubungan
antara pendidikan dan kebudayaan adalah pendidikan membuat orang menjadi
berbudaya. Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin tinggi
kebudayaan suatu bangsa bisa dipastikan makin tinggi pula pendidikan atau cara
mendidiknya. Kebudayaan inilah yang bisa menjadi acuan tentang peradaban suatu
bangsa. Dengan kata lain, tingginya peradaban suatu bangsa sangat terpengaruh
oleh kualitas pendidikannya.
Pendidikan
memegang peranan penting dalam memajukan suatu bangsa. Sejak zaman perjuangan
kemerdekaan, para pejuang serta perintis kemerdekaan telah menyadari bahwa pendidikan
merupakan faktor yang sangat vital dalam usaha membebaskannya dari belenggu
penjajahan serta untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, para
pendiri bangsa ini berpendapat bahwa disamping melalui organisasi diplomasi dan
politik, perjuangan ke arah kemerdekaan perlu diteruskan melalui jalur
pendidikan. Pendidikan dijadikan media untuk mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan Nasional
Pendidikan
merupakan salah satu faktor penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa
dan negara, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan
mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Bagi rakyat Indonesia, pendidikan
merupakan wadah atau sarana mendapatkan pengetahuan. Hal ini sesuai dengan
fungsi pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Pendidikan
nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu
sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut mendefinisikan
pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan,
masyarakat, bangsa, dan negara (Pidarta, 2009:11).
Dengan
demikian, pendidikan nasional memiliki tujuan yang mulai, yakni membuat pelajar
Indonesia menjadi pribadi yang secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya
supaya mampu mengendalikan dirinya, memiliki kekuatan spiritual keagamaan, memiliki
kepribadian yang sebaik-baiknya, memiliki kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan nasional
memiliki tujuan memberikan bekal kepada pelajar Indonesia supaya bisa menjadi
menusia yang sebaik-baiknya dan mampu melanjutkan estafet pembangunan sebagai
pemimpin bangsa maupun anggota masyarakat.
Pendukung
utama bagi tercapainya keberhasilan pendidikan nasional dengan sasaran
pembangunan manusia Indonesia adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang
bermutu dalam penyelenggaraannya tidak cukup hanya dilakukan melalui
transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus didukung oleh
peningkatan sistem manajemen tenaga pendidikan serta pengembangan kemampuan peserta
didik untuk menolong diri sendiri dalam memilih dan mengambil keputusan demi
pencapaian cita-citanya. Kemampuan seperti itu tidak hanya menyangkut aspek
akademis, tetapi juga menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, serta kematangan
intelektual.
Ki Hajar Dewantara
Menurut
Ki Hajar Dewantara, pendidikan Barat yang diterapkan oleh pemerintah Hindia
Belanda terlalu intelektualistik dan materialistik, sehingga tidak dapat
menjawab kebutuhan bangsa. Diberinya kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk
memasuki sekolah Bumiputera yang kelak menjadi HIS, juga tidak memberi harapan
yang diinginkan. Lulusan HIS dinilai tidak bermutu sebab yang diterapkan adalah
sistem Eropa. Hasil pendidikan dengan sistem tersebut melahirkan anak-anak yang
bertabiat kasar, kurang memiliki rasa kemanusiaan sehingga tumbuh rasa
individualisme
Melihat
hasil pendidikan tidak sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia, maka
dipikirkan sistem pendidikan nasional yang berdasarkan budaya bangsa Indonesia
dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1922
berdirilah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Taman berarti tempat bermain
atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid. Ketika pertama kali didirikan,
sekolah Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman
Siswa" (http://www.ustjogja.ac.id
diakses tanggal 6 November 2022).
Pemikiran
Ki Hajar Dewantara
Memahami
pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan seperti menyelami samudera
kemuliaan jiwa seorang pendidik. Tujuan pendidikan begitu mulia karena memberi tuntunan
terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Betapa tujuan untuk memulikan
manusia. Pekerjaan di sekolah bertujuan untuk menjemput peradaban kebudayaan
yang dicita-citakan. Dengan kata lain, pendidikan menjadi landasan pembentukan
peradaban bangsa.
Pemikiran
filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara ternyata membedakan antara pendidikan
dan pengajaran. Menurut Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pengajaran
merupakan bagian dari pendidikan. Pengajaran adalah proses pemberian ilmu untuk
melengkapi kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sementara pendidikan
adalah pemberian tuntunan terhadap kodrat yang dimiliki anak, agar supaya anak
tersebut meraih keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, sebagai
manusia seutuhnya maupun sebagai anggota bagian dari masyarakat. Dengan
demikian, pengajaran dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang bertujuan untuk
memerdekakan manusia Indonesia sepenuhnya. Dalam hal ini, merdeka mengandung
maksud murid nantinya bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada siapapun dan
hanya bersandar pada kemampuan diri sendiri (merdeka lahir). Selain itu,
diharapkan murid dapat tumbuh sebagai manusia yang merdeka batin, yakni
memperlakukan dirinya dan orang lain dengan sebaik-baiknya.
Relevansi
pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini
adalah sebagai berikut, berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003, pendidikan
nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Dari pengertian pendidikan nasional sangat relevan dengan
pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengharapkan murid menjadi manusia yang
berilmu, cakap dan mandiri, karena cita-cita pendidikan saat ini menjadikan
manusia Indonesia yang berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.
Selain itu, terdapat 3 kerangka
perubahan dalam transformasi pendidikan, yakni pertama kodrat keadaan, yang
dibagi menjadi 2 hal, kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam menuntut
kenyataan bahwa pendidikan harus menyesuaikan tempat berlangsungnya dan
kebiasaan-kebiasaan (kebudayaan yang berlaku) di daerah tersebut. Sementara
kodrat zaman bermakna bahwa pendidikan memiliki tantangan yang berbeda
berdasarkan zaman yang dilaluinya, sehingga sebagai seorang pendidik haruslah
terbuka dengan semua perubahan zaman, apalagi saat ini revolusi teknologi sudah
sedemikian pesatnya. Kerangka perubahan yang kedua adalah prinsip melakukan
perubahan dengan istilah asas trikon, yaitu:
1. Kontinuitas, yaitu bahwa pendidikan tidak boleh melupakan akar
nilai budaya yang hakiki dari masyarakat
2. Konvergensi, pendidikan harus memanusiakan manusia dan memperkuat
nilai kemanusiaan
3. Konsentris, pendidikan harus menghargai keragaman serta keunikan
pemelajar.
Kerangka
perubahan yang ketiga bahwa pendidikan itu memerdekakan. Diibaratkan petani,
pendidik haruslah menuntun murid sesuai kodratnya.
Dari
semua hal tersebut, jika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, sebagai
seorang guru (pembelajar) yang perlu dirubah adalah budi pekerti dari murid.
Budi adalah cipta (pikiran), rasa (perasaan), dan karsa (kemauan) serta pekrti
artinya tenaga. Jadi dengan semboyan ing ngarso sung tuladha, bahwa di depan
seorang pendidik memberi contoh, ing madya mangun karsa yang berarti di tengah
pendidik memberi semangat, tut wuri handayani, bahwa di belakang pendidik
memberi dorongan, semua supaya pendidikan bisa mengolah cipta untuk menguatkan
pikiran, mengolah rasa untuk menguatkan perasaan, mengolah karsa untuk
menguatkan kemauan, serta mengolah raga untuk menguatkan tenaga dari pemelajar.
Perubahan
Yang terjadi
Pemikiran
Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan telah menjadi bagian yang istimewa bagi
sejarah pendidikan di Indonesia. Konsep pendidikannya menampilkan kekhasan
kultural Indonesia dan menekankan pentingnya pengolahan potensi-potensi peserta
didik secara tulus. Tugas pendidik adalah mengembangkan potensi-potensi peserta
didik, menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik dalam suatu dialog, menghamba
pada anak. Semuanya itu dimaksudkan untuk memantik dan mengungkapkan
gagasan-gagasan peserta didik tentang suatu bahasan tertentu sehingga yang
terjadi adalah pengetahuan tidak ditanamkan secara paksa tetapi ditemukan,
diolah dan dipilih oleh murid. Dalam perspektif itulah Ki Hajar memaknai
pendidikan sebagai aktivitas “menuntun”.
Yang
saya yakini selama ini sejak menjadi pendidik, bahwa setiap anak yang lahir di
dunia ini adalah seorang individu. Seorang yang akan menjadi “seseorang” saat
dewasa kelak. Menjadi seseorang di sini tentu saja melalui proses panjang, dan
yang paling berpengaruh adalah melalui pendidikan. Melalui perjalanan panjang
di pendidikan, seorang anak ditempa secara positif maupun negatif. Mengapa saya
sampaikan seperti itu?
Ditempa
hal yang positif apabila yang ditanamkan dalam ingatan anak adalah hal-hal yang
positif. Banyak ahli perkembangan anak menyampaikan bahwa satu bentakan atau
makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga, satu cubitan
atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga, dan sebaliknya
1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak
saat itu juga. Saya meyakini benar pendapat ini karena saya merupakan korban
bentakan, makian, cubitan bahkan pukulan. Dengan pengalaman buruk tersebut, saya
merasa potensi yang ada pada diri saya tidak terasah dengan maksimal. Sehingga saya
sangat menjaga supaya saya tidak berlaku seperti itu ketika mendidik.
Pengalaman
lain yang berhasil saya himpun dari beberapa orang teman sekolah saya, adalah
bahwa ingatan buruk saat bersekolah (dalam hal ini dengan guru) itu akan terus
dibawa seumur hidupnya, setidaknya hingga di usia dewasa. Dengan pengakuan
tersebut, tentu saya tidak ingin anak yang saya didik memiliki ingatan buruk
tentang saya. Karena itu, sebisa mungkin saya menciptakan kenangan yang baik,
meski itu tidaklah mudah, karena dalam keseharian ada saja permasalahan di
dalam kelas.
Selain
berkenaan dengan kenangan dan ingatan terhadap sosok guru, yang saya yakini
selama ini adalah bahwa masing-masing anak memiliki masa depannya
masing-masing. Sebagai seorang pendidik hendaklah tidak memiliki pandangan yang
meremehkan, bagaimanapun kemampuan anak tersebut, terutama dalam bidang
akademik. Sebagai contoh pernah saya memiliki siswa yang sampai kelas 4 sangat
tertinggal dalam kemampuan akademiknya. Namun, saya terus membesarkan hatinya
dengan menyampaikan di depan kelas, “Mungkin saat ini si A belum bisa mengikuti
pembelajaran, namun kita tidak pernah tahu jika saat dewasa kelas A bisa
menjadi juragan mie ayam karena si A pandai memasak seperti orang tuanya yang pedagang
mie ayam. Atau karena si A ini pandai momong adiknya, maka siapa tahu nanti si
A jadi istri idaman karena memiliki rasa kasih sayang yang besar seperti yang
dilakukannya saat ini terhadap adik dan keluarganya, sama Allah dikirimkan
suami yang baik, kaya raya yang juga menyayanginya, dan akan menjadi nyonya
besar. Oleh karena itu, kita semua tidak boleh meremehkan siapapun, apapun
kondisi dan kemampuannya saat ini. Kita tidak pernah tahu akan terjadi apa di hari
esok terhadap nasib seseorang. Siapa tahu yang saat ini pandai matematika nanti
menjadi anak buah yang kurang pandai. Wallahi, kita tidak pernah tahu 1 menit
ke depan akan terjadi apa pada kita.” Dengan demikian, si A tidak pernah dirundung
teman-temannya, dan bisa berbaur dalam pergaulan dan perkembangan yang normal
dengan anak seusianya.
Beberapa
contoh ucapan terima kasih dari anak didik saya, yang terasa tulus mencurahkan
perasaannya kepada saya.
Peserta
didik yang memiliki permasalahan seperti yang saya sampaikan di atas tidak hanya
satu dua dalam perjalanan saya mendidik anak (murid). Tugas saya hanya mengukir
salah satu bagian sejarah hidupnya di dalam perjalanan pendidikannya. Saya sangat
berharap, menjadi apapun anak didik saya kelak, akan menjadi orang yang
bahagia, sesuai dengan ukurannya, karena memang ukuran bahagia masing-amsing
orang berbeda.
Setelah
mempelajari modul yang berisi pemikiran Ki hajar Dewantara tentang pendidikan,
maka saya merasa yang sudah saya lakukan adalah istilah menuntun, menghamba
pada anak, meski belum pada tahap ideal menurut Ki Hajar Dewantara. Saya sangat
terinspirasi sekali dengan kata-kata tersebut. Begitu istimewanya sehingga
benar-benar mengena dalam benak saya. Saya juga menyadari bahwa anak memiliki
keunikan dan bergerak dengan kecepatannya sendiri-sendiri, sebagaimana yang
disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa anak bergerak sesuai dengan orbitnya
masing-masing.
Dengan
mempelajari modul ini saya semakin meyakini yang sudah saya lakukan harus saya
teruskan, dengan lebih banyak memahami, menuntun, menghamba pada anak didik
saya. Saya akan lebih keras mencoba menyelenggarakan pembelajaran yang aktif
(berpusat pada anak, berpihak pada anak), kreatif, efektif, menyenangkan sehingga
akan sejalan pemikiran Ki Hajar Dewantara serta seiring dengan tujuan
pendidikan nasional. Dan pendidikan yang tidak melupakan budaya serta kearifan
lokal berdasarkan kodrat alamnya.
Selain itu terdapat convergentie-theorie, di mana teori ini mengajarkan, bahwa
anak yang dilahirkan itu
diumpamakan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh, tetapi semua
tulisan-tulisan itu suram. Lebih lanjut menurut aliran ini, pendidikan itu
berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi
baik, agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang
mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan, agar jangan sampai menjadi tebal,
bahkan makin suram.
Dengan teori tersebut maka saya sebagai pendidik berkewajiban menebalkan "tulisan buram" anak yang berupa karakter-karakter baik melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik, seperti sikap cinta tanah air dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan salah satu lagu wajib nasional setiap pagi, dilanjutkan dengan pengembangan sikap religius dengan berdoa dan pembiasaan Asma'ul Husna dan berdoa sebelum pemeblajaran. Selanjutnya dengan pendidikan berpusat pada anak, maka pembelajaran diselenggarakan secara menyenangkan. Sebagai contoh dengan permainan Ranking 1 untuk memacu semangat anak dalam mempelajari suatu materi.
Harapan yang sangat besar selalu tersemat dalam dada saya, bahwa suatu saat generasi yang saat ini ada di bangku sekolah, bisa menjadi pemimpin bangsa yang terbaik, yang membawa Indonesia pada puncak kejayaan dan peradaban sebagai bangsa, dengan tidak melupakan kearifan lokal, tetap membumi meski sudah pada puncak keberhasilannya. Tidak melupakan akar sejarah maupun budayanya, dan dari mana dia berasal.
Referensi
Pidarta, Made. 2009. Landasan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
www.pinterest.com diakses tanggal 4 November 2022.
http://www.ustjogja.ac.id diakses tanggal 6 November 2022.
New Journey... CGP
Bismillahirrahmanirrahim..
Lama tidak membuka blog ini, sejak berbagai kesibukan yang tiada akhir..cie 😁 akhirnya saya kembali di laman ini karena suatu program, yaitu Program Calon Guru Penggerak. Ya, satu program lagi saya ikuti. Belajar lagi. Dan semua sudah dipastikan sesuai dengan waktunya.
Dengan berbagai rintangan yang ada, saya sangat berharap bisa mengikuti program ini dengan sebaik-baiknya, dilancarkan, dan lulus pastinya. Aamiin Ya Rabbal'alamiin 👏
Berikut pengumuman lulusnya 😍







