Senin, 15 November 2021.... Sebuah hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh kelas 5 SD di Indonesia mungkin ya.. Karena pada hari ini dilaksanakanlah ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer) yang baru pertama kali diselenggarakan oleh Kemdikbud Ristek. Sebuah asesmen atau proses penilaian yang digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan di suatu satuan pendidikan, dan menurut Mas Menteri (Nadiem Makarim) dipastikan menggantikan UN (Ujian Nasional).
Digantikannya Ujian Nasional karena adanya keinginan mulia untuk melakukan pembinaan dalam hal literasi dan karakter. Literasi menjadi teramat penting ketika banyak sekali orang yang menjadi sumbu pendek hanya dengan membaca judul sebuah artikel. Hanya dari membaca judul orang bisa bertengkar, orang bisa menebar kebencian, bisa saling mencaci dan memaki. Tentu saja ini berkaitan erat dengan karakter. Pada akhirnya pembenahan memang harus dilakukan sebagai bentuk pembangungan sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang bagus akan memudahkan berjalannya pembangunan nasional.
Kualitas literasi dan karakter manusia Indonesia menjadi semakin terlihat nyata ketika kita memasuki era digital, era semua orang menggenggam dunia melalui benda interaktif berbentuk kotak kecil yang bernama bukan sekedar handphone lagi, tapi sebuah smartphone (telepon pintar).
Dengan smartphone semua informasi terbuka lebar, bisa dikonsumsi oleh siapapun, terlebih adanya fitur notifikasi yang menampilkan judul dari setiap berita pada aplikasi yang dimiliki. Dengan beraneka media sosial semua orang bisa beropini dan berpendapat sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu, nitizen Indonesia menempati literasi rendah, yakni posisi 60 dari 72 negara. Dilansir dari https://perpustakaan.kemendagri.go.id?p=4661 bahwa berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Sungguh miris memang.
Semoga, dengan dimulainya asesmen dengan mengedepankan literasi ini, manusia Indonesia menjadi semakin mudah menghargai perbedaan, menjadi lebih teliti saat menerima berita, dan pastinya tidak mudah terhasut oleh berbagai berita. Demikian juga dengan karakternya. Manusia Indonesia menjadi kembali mengedepankan sopan santun, saling menghormati dan tentu saja Indonesia bisa menjadi negara yang maju.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar